Kamis, 12 Februari 2015

Motifasi

Photo
Bukan sulitnya masalah yang menjadikan Anda ragu, tapi sifat asli Anda yang kurang tegas.
Perbaiki sikap Anda, dan dunia terasa lebih jelas pilihan-pilihannya.
Mario Teguh
Bukan sulitnya masalah yang menjadikan Anda ragu, tapi sifat asli Anda yang kurang tegas.

Perbaiki sikap Anda, dan dunia terasa lebih jelas pilihan-pilihannya.

Mario Teguh
Photo
Jika engkau ingin hidupmu baik, jauhi keburukan. 
Bagaimana kebaikan bisa mendatangimu, jika kau warnai hati, pikiran, dan perilakumu dengan keburukan yang membatalkan doamu? 
Mario Teguh
Jika engkau ingin hidupmu baik, jauhi keburukan.

Bagaimana kebaikan bisa mendatangimu, jika kau warnai hati, pikiran, dan perilakumu dengan keburukan yang membatalkan doamu?

Mario Teguh
Photo
Hanya menyesal tidak akan memperbaiki keadaan. 
Tindakan yang lebih baik karena penyesalan, akan memperbaiki kehidupan. 
Mario Teguh – Loving you all as always
Hanya menyesal tidak akan memperbaiki keadaan.

Tindakan yang lebih baik karena penyesalan, akan memperbaiki kehidupan.

Mario Teguh – Loving you all as always
Photo
Alarm bangun pagi yang paling efektiv untuk anak muda yang susah bangun adalah MAMA. 
Mario Teguh
Alarm bangun pagi yang paling efektiv untuk anak muda yang susah bangun adalah MAMA.

Mario Teguh
Photo
Katakanlah Aamiin atau Like, 
jika doa pagi ini adalah doa Anda juga … 
Tuhan, aku ingin sekali  
menyejahterakan orang tua dan  
keluargaku, maka kumohon baikkanlah,  
lancarkan dan harumkanlah rezekiku  
dengan keberkahan.      
Tuhan, mohon sehatkanlah aku,  
damaikanlah hatiku, jernihkanlah  
pikiranku, dan indahkanlah imanku.       
Aamiin
———————-
Mario Teguh – Loving you all as always
Katakanlah Aamiin atau Like,
jika doa pagi ini adalah doa Anda juga …

Tuhan, aku ingin sekali
menyejahterakan orang tua dan
keluargaku, maka kumohon baikkanlah,
lancarkan dan harumkanlah rezekiku
dengan keberkahan.

Tuhan, mohon sehatkanlah aku,
damaikanlah hatiku, jernihkanlah
pikiranku, dan indahkanlah imanku.

Aamiin

———————-

Mario Teguh – Loving you all as always
Photo
Katakanlah Aamiin atau Like, 
jika doa malam ini adalah doa Anda juga …
Love you! 
Mario Teguh ☺☺☺
Katakanlah Aamiin atau Like,
jika doa malam ini adalah doa Anda juga …

Love you!

Mario Teguh ☺☺☺
Photo
Jangan galau tentang laki-laki atau perempuan yang kelasnya tidak baik untuk Anda.
Pantaskanlah diri Anda bagi kekasih yang kelasnya lebih sesuai dengan kebaikan pribadi Anda.
Pribadi yang berkelas baik adalah yang jujur, setia, pekerja keras, dan memelihara kedekatan yang indah dengan Tuhan.
Mario Teguh – Loving you all as always
Jangan galau tentang laki-laki atau perempuan yang kelasnya tidak baik untuk Anda.

Pantaskanlah diri Anda bagi kekasih yang kelasnya lebih sesuai dengan kebaikan pribadi Anda.

Pribadi yang berkelas baik adalah yang jujur, setia, pekerja keras, dan memelihara kedekatan yang indah dengan Tuhan.

Mario Teguh – Loving you all as always
Photo
Wanita itu bukan untuk dimengerti, tapi untuk dicintai. 
Di dalam mencintainya itulah, mudah-mudahan engkau mengerti.
Mario Teguh
Wanita itu bukan untuk dimengerti, tapi untuk dicintai.

Di dalam mencintainya itulah, mudah-mudahan engkau mengerti.

Mario Teguh
Photo
Katakanlah Aamiin atau Like, 
jika doa senja ini adalah doa Anda juga …
Tuhan, 
bersama tenggelamnya matahari senja ini, susutkanlah kesedihanku dan kuatkanlah kebahagiaanku, lancarkanlah rezekiku, dan jadikanlah aku penyejahtera kehidupan Ibu dan Ayahku.
Aamiin
———————-
Mario Teguh – Loving you all as always
Katakanlah Aamiin atau Like,
jika doa senja ini adalah doa Anda juga …

Tuhan,
bersama tenggelamnya matahari senja ini, susutkanlah kesedihanku dan kuatkanlah kebahagiaanku, lancarkanlah rezekiku, dan jadikanlah aku penyejahtera kehidupan Ibu dan Ayahku.

Aamiin

———————-

Mario Teguh – Loving you all as always
Photo
Sesuatu yang tidak sulit, tidak akan menumbuhkan Anda. 
Mario Teguh
Sesuatu yang tidak sulit, tidak akan menumbuhkan Anda.

Mario Teguh

menggapai mimpi

5 Cara Yang Dilakukan Orang Sukses Untuk Menggapai Mimpi


5 Cara Yang Dilakukan Orang Sukses Untuk Menggapai Mimpi Oleh SegiempatSetiap orang memiliki mimpi, tetapi tidak semua orang memiliki kekuatan, pengetahuan dan kemampuan untuk mengubah mimpi menjadi kenyataan. Semua orang sukses memiliki kebiasaan tertentu, prinsip yang membuat mereka sukses. Dibawah ini akan dijelaskan 5 cara yang dilakukan orang sukses untuk menggapai mimpi.

1. Mereka Menetapkan Tujuan Dan Menggapainya

Menetapkan tujuan adalah satu hal, dan menggapainya adalah hal yang lain. Hampir semua orang menetapkan tujuan tetapi hanya beberapa orang memiliki keberanian dan disiplin untuk menjalani proses dan menggapainya. Setiap awal tahun, Anda membuat resolusi tentang hal-hal yang Anda ingin lakukan, ataupun yang ingin Anda hentikan. Jika Anda menoleh kebelakang, apakah Anda dapat dengan bangga bahwa Anda telah menggapai 40% dari tujuan Anda? Miliuner minyak besar H.L. Hunt pernah berkata bahwa hanya 2 hal yang dibutuhkan untuk sukses: pertama, menentukan apa yang Anda inginkan, dan yang kedua menentukan “harga” yang akan Anda bayar untuk tujuan tersebut.

2. Mereka Konsisten

Malcolm Gladwell, seorang penulis best seller mempopulerkan ide tentang “10.000 jam latihan adalah kunci menuju sukses.” Jika Anda ingin menjadi luar biasa didalam bidang apapun yang Anda lakukan, Anda harus konsisten pada bidang tersebut. Hargai setiap kesempatan yang Anda dapatkan untuk melakukan hal yang Anda cintai, dan lakukan hal tersebut dengan baik. Semua orang sukses mengetahui rahasia ini.

3. Mereka Menciptakan Hubungan Yang Berharga

Dibelakang setiap “Steve Jobs” yang sukses ada “Steve Wozniak”, dan ada “Paul Allen” dibelakang setiap “Bill Gates’ yang sukses. Anda membutuhkan orang yang akan membantu Anda untuk mencapai mimpi Anda; percayalah, Anda tidak dapat melakukannya sendiri. Anda membutuhkan mentor, partner, pegawai, pasangan hidup, dan sebagainya. Beberapa dari kriteria untuk mendapatkan partner dan mentor yang baik adalah kecocokan, pengalaman, nilai yang sama, loyalitas, dan dan keuntungan mutual, diantara kriteria lainnya.

4. Mereka Melakukan Pengorbanan Yang Tidak Biasa

Seorang pria dilahirkan pada tahun 1918; beliau menghilang pada tahun 1964 setelah memberikan pidato 4 jam pada saat sidangnya, dimana dia dituduh dan menerima vonis seumur hidup. Beliau menghabiskan 27 tahun hidupnya didalam penjara karena beliau tidak ingin mengkompromikan kepercayaan politiknya. Dilepaskan pada tahun 1990, beliau memenangkan Nobel Perdamaian pada tahun 1993, menjadi presiden Afrika Selatan pada tahun 1994, dan menerima lebih dari 250 penghargaan lainnya semenjak saat itu. Nama beliau adalah Nelson Mandela. Beliau melakukan pengorbanan yang besar untuk negaranya dan akhirnya beliau mendapatkan apa yang dia mimpikan selama lebih dari 3 dekade. Anda harus mengorbankan sesuatu sekarang sehingga orang-orang dapat bercerita tentang Anda dimasa akan datang.

5. Mereka Tidak Pernah Menyerah

Raja real estate, Donald Trump, memiliki kekayaan lebih dari USD 27 Milyar. Tidaklah buruk, jika Anda melihat fakta bahwa dia memiliki hutang sekitar USD 900 Juta. Dunia tidak berakhir bagi dirinya saat dia kehilangan apa yang dia miliki dan lalu bangkrut. Dia terus meminjam uang yang lebih banyak dan terus mencoba sampai dia berhasil.
Thomas Alfa Edison melakukan percobaan 10.000 kali untuk membuat bohlam lampu, sampai pada akhirnya dia berhasil. Kita mungkin tidak menggunakan lampu dan listrik sekarang ini jika dia menyerah dulunya. Semua orang pastinya memiliki ujian terberat didalam hidupnya, dan hanya orang-orang yang pantang menyerah dan terus berusaha yang bisa melewati ujian tersebut.

Sumber :  http://segiempat.com/tips-dan-cara/umum/pengembangan-diri/5-cara-yang-dilakukan-orang-sukses-untuk-menggapai-mimpi/
Abū ʿAbdullāh Muhammad bin Idrīs al-Syafiʿī atau Muhammad bin Idris asy-Syafi`i (bahasa Arab: محمد بن إدريس الشافعي) yang akrab dipanggil Imam Syafi'i (Ashkelon, Gaza, Palestina, 150 H / 767M - Fusthat, Mesir 204H / 819M) adalah seorang mufti besar Sunni Islam dan juga pendiri mazhab Syafi'i. Imam Syafi'i juga tergolong kerabat dari Rasulullah, ia termasuk dalam Bani Muththalib, yaitu keturunan dari al-Muththalib, saudara dari Hasyim, yang merupakan kakek Muhammad.
Saat usia 20 tahun, Imam Syafi'i pergi ke Madinah untuk berguru kepada ulama besar saat itu, Imam Malik. Dua tahun kemudian, ia juga pergi ke Irak, untuk berguru pada murid-murid Imam Hanafi di sana.
Imam Syafi`i mempunyai dua dasar berbeda untuk Mazhab Syafi'i. Yang pertama namanya Qaulun Qadim dan Qaulun Jadid.

Imam Asy-Syafi'i

Kelahiran dan kehidupan keluarga

Kelahiran

Idris bin Abbas menyertai istrinya dalam sebuah perjalanan yang cukup jauh, yaitu menuju kampung Gaza, Palestina, dimana saat itu umat Islam sedang berperang membela negeri Islam di kota Asqalan.
Pada saat itu Fatimah al-Azdiyyah sedang mengandung, Idris bin Abbas gembira dengan hal ini, lalu ia berkata, "Jika engkau melahirkan seorang putra, maka akan kunamakan Muhammad, dan akan aku panggil dengan nama salah seorang kakeknya yaitu Syafi'i bin Asy-Syaib."
Akhirnya Fatimah melahirkan di Gaza, dan terbuktilah apa yang dicita-citakan ayahnya. Anak itu dinamakan Muhammad, dan dipanggil dengan nama "asy-Syafi'i".
Kebanyakan ahli sejarah berpendapat bahwa Imam Syafi'i lahir di Gaza, Palestina, namun di antara pendapat ini terdapat pula yang menyatakan bahwa dia lahir di Asqalan; sebuah kota yang berjarak sekitar tiga farsakh dari Gaza. Menurut para ahli sejarah pula, Imam Syafi'i lahir pada tahun 150 H, yang mana pada tahun ini wafat pula seorang ulama besar Sunni yang bernama Imam Abu Hanifah.
Imam Ahmad bin Hambal berkata, “Sesungguhnya Allah telah mentakdirkan pada setiap seratus tahun ada seseorang yang akan mengajarkan Sunnah dan akan menyingkirkan para pendusta terhadap Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam. Kami berpendapat pada seratus tahun yang pertama Allah mentakdirkan Umar bin Abdul Aziz dan pada seratus tahun berikutnya Allah menakdirkan Imam Asy-Syafi`i.

Nasab

Idris, ayah Imam Syafi'i tinggal di tanah Hijaz, ia merupakan keturunan dari al-Muththalib, jadi dia termasuk ke dalam Bani Muththalib. Nasab Beliau adalah Muhammad bin Idris bin Al-Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin As-Sa’ib bin Ubaid bin Abdi Yazid bin Hasyim bin Al-Mutthalib bin Abdulmanaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan. Nasabnya bertemu dengan Rasulullah di Abdul-Manaf.
Dari nasab tersebut, Al-Mutthalib bin Abdi Manaf, kakek Muhammad bin Idris Asy-Syafi`ie, adalah saudara kandung Hasyim bin Abdi Manaf kakek Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam .
Kemudian juga saudara kandung Abdul Mutthalib bin Hasyim, kakek Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam , bernama Syifa’, dinikahi oleh Ubaid bin Abdi Yazid, sehingga melahirkan anak bernama As-Sa’ib, ayahnya Syafi’. Kepada Syafi’ bin As-Sa’ib radliyallahu `anhuma inilah bayi yatim tersebut dinisbahkan nasabnya sehingga terkenal dengan nama Muhammad bin Idris Asy-Syafi`ie Al-Mutthalibi. Dengan demikian nasab yatim ini sangat dekat dengan Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa alihi wasallam .
Bahkan karena Hasyim bin Abdi Manaf, yang kemudian melahirkan Bani Hasyim, adalah saudara kandung dengan Mutthalib bin Abdi manaf, yang melahirkan Bani Mutthalib, maka Rasulullah bersabda:
Hanyalah kami (yakni Bani Hasyim) dengan mereka (yakni Bani Mutthalib) berasal dari satu nasab. Sambil beliau menyilang-nyilangkan jari jemari kedua tangan beliau.
—HR. Abu Nu’aim Al-Asfahani dalam Hilyah nya juz 9 hal. 65 - 66

Masa belajar

Setelah ayah Imam Syafi’i meninggal dan dua tahun kelahirannya, sang ibu membawanya ke Mekah, tanah air nenek moyang. Ia tumbuh besar di sana dalam keadaan yatim. Sejak kecil Syafi’i cepat menghafal syair, pandai bahasa Arab dan sastra sampai-sampai Al Ashma’i berkata,”Saya mentashih syair-syair bani Hudzail dari seorang pemuda dari Quraisy yang disebut Muhammad bin Idris,” Imam Syafi’i adalah imam bahasa Arab.

Belajar di Makkah

Di Makkah, Imam Syafi’i berguru fiqh kepada mufti di sana, Muslim bin Khalid Az Zanji sehingga ia mengizinkannya memberi fatwah ketika masih berusia 15 tahun. Demi ia merasakan manisnya ilmu, maka dengan taufiq Allah dan hidayah-Nya, dia mulai senang mempelajari fiqih setelah menjadi tokoh dalam bahasa Arab dan sya’irnya. Remaja yatim ini belajar fiqih dari para Ulama’ fiqih yang ada di Makkah, seperti Muslim bin khalid Az-Zanji yang waktu itu berkedudukan sebagai mufti Makkah.
Kemudian beliau juga belajar dari Dawud bin Abdurrahman Al-Atthar, juga belajar dari pamannya yang bernama Muhammad bin Ali bin Syafi’, dan juga menimba ilmu dari Sufyan bin Uyainah.
Guru yang lainnya dalam fiqih ialah Abdurrahman bin Abi Bakr Al-Mulaiki, Sa’id bin Salim, Fudhail bin Al-Ayyadl dan masih banyak lagi yang lainnya. Dia pun semakin menonjol dalam bidang fiqih hanya dalam beberapa tahun saja duduk di berbagai halaqah ilmu para Ulama’ fiqih sebagaimana tersebut di atas.

Belajar di Madinah

Kemudian beliau pergi ke Madinah dan berguru fiqh kepada Imam Malik bin Anas. Ia mengaji kitab Muwattha’ kepada Imam Malik dan menghafalnya dalam 9 malam. Imam Syafi’i meriwayatkan hadis dari Sufyan bin Uyainah, Fudlail bin Iyadl dan pamannya, Muhamad bin Syafi’ dan lain-lain.
Di majelis beliau ini, si anak yatim tersebut menghapal dan memahami dengan cemerlang kitab karya Imam Malik, yaitu Al-Muwattha’ . Kecerdasannya membuat Imam Malik amat mengaguminya. Sementara itu As-Syafi`ie sendiri sangat terkesan dan sangat mengagumi Imam Malik di Al-Madinah dan Imam Sufyan bin Uyainah di Makkah.
Beliau menyatakan kekagumannya setelah menjadi Imam dengan pernyataannya yang terkenal berbunyi: “Seandainya tidak ada Malik bin Anas dan Sufyan bin Uyainah, niscaya akan hilanglah ilmu dari Hijaz.” Juga beliau menyatakan lebih lanjut kekagumannya kepada Imam Malik: “Bila datang Imam Malik di suatu majelis, maka Malik menjadi bintang di majelis itu.” Beliau juga sangat terkesan dengan kitab Al-Muwattha’ Imam Malik sehingga beliau menyatakan: “Tidak ada kitab yang lebih bermanfaat setelah Al-Qur’an, lebih dari kitab Al-Muwattha’ .” Beliau juga menyatakan: “Aku tidak membaca Al-Muwattha’ Malik, kecuali mesti bertambah pemahamanku.”
Dari berbagai pernyataan beliau di atas dapatlah diketahui bahwa guru yang paling beliau kagumi adalah Imam Malik bin Anas, kemudian Imam Sufyan bin Uyainah. Di samping itu, pemuda ini juga duduk menghafal dan memahami ilmu dari para Ulama’ yang ada di Al-Madinah, seperti Ibrahim bin Sa’ad, Isma’il bin Ja’far, Atthaf bin Khalid, Abdul Aziz Ad-Darawardi. Ia banyak pula menghafal ilmu di majelisnya Ibrahim bin Abi Yahya. Tetapi sayang, guru beliau yang disebutkan terakhir ini adalah pendusta dalam meriwayatkan hadits, memiliki pandangan yang sama dengan madzhab Qadariyah yang menolak untuk beriman kepada taqdir dan berbagai kelemahan fatal lainnya. Sehingga ketika pemuda Quraisy ini telah terkenal dengan gelar sebagai Imam Syafi`ie, khususnya di akhir hayat beliau, beliau tidak mau lagi menyebut nama Ibrahim bin Abi Yahya ini dalam berbagai periwayatan ilmu.

Di Yaman

Imam Syafi’i kemudian pergi ke Yaman dan bekerja sebentar di sana. Disebutkanlah sederet Ulama’ Yaman yang didatangi oleh beliau ini seperti: Mutharrif bin Mazin, Hisyam bin Yusuf Al-Qadli dan banyak lagi yang lainnya. Dari Yaman, beliau melanjutkan tour ilmiahnya ke kota Baghdad di Iraq dan di kota ini beliau banyak mengambil ilmu dari Muhammad bin Al-Hasan, seorang ahli fiqih di negeri Iraq. Juga beliau mengambil ilmu dari Isma’il bin Ulaiyyah dan Abdul Wahhab Ats-Tsaqafi dan masih banyak lagi yang lainnya.

Di Baghdad, Irak

Kemudian pergi ke Baghdad (183 dan tahun 195), di sana ia menimba ilmu dari Muhammad bin Hasan. Ia memiliki tukar pikiran yang menjadikan Khalifah Ar Rasyid.

Di Mesir

Di Mesir Imam Syafi'i bertemu dengan murid Imam Malik yakni Muhammad bin Abdillah bin Abdil Hakim. Di Baghdad, Imam Syafi’i menulis madzhab lamanya (qaul qadim). Kemudian beliu pindah ke Mesir tahun 200 H dan menuliskan madzhab baru (qaul jadid). Di sana beliau wafat sebagai syuhadaul ilm di akhir bulan Rajab 204 H.

Karya tulis

Ar-Risalah

Salah satu karangannya adalah “Ar risalah” buku pertama tentang ushul fiqh dan kitab “Al Umm” yang berisi madzhab fiqhnya yang baru. Imam Syafi’i adalah seorang mujtahid mutlak, imam fiqh, hadis, dan ushul. Ia mampu memadukan fiqh ahli Irak dan fiqh ahli Hijaz. Imam Ahmad berkata tentang Imam Syafi’i,”Beliau adalah orang yang paling faqih dalam Al Quran dan As Sunnah,” “Tidak seorang pun yang pernah memegang pena dan tinta (ilmu) melainkan Allah memberinya di ‘leher’ Syafi’i,”. Thasy Kubri mengatakan di Miftahus sa’adah,”Ulama ahli fiqh, ushul, hadits, bahasa, nahwu, dan disiplin ilmu lainnya sepakat bahwa Syafi’i memiliki sifat amanah (dipercaya), ‘adalah (kredibilitas agama dan moral), zuhud, wara’, takwa, dermawan, tingkah lakunya yang baik, derajatnya yang tinggi. Orang yang banyak menyebutkan perjalanan hidupnya saja masih kurang lengkap,”

Mazhab Syafi'i

Dasar madzhabnya: Al Quran, Sunnah, Ijma’ dan Qiyas. Beliau juga tidak mengambil Istihsan (menganggap baik suatu masalah) sebagai dasar madzhabnya, menolak maslahah mursalah, perbuatan penduduk Madinah. Imam Syafi’i mengatakan,”Barangsiapa yang melakukan istihsan maka ia telah menciptakan syariat,”. Penduduk Baghdad mengatakan,”Imam Syafi’i adalah nashirussunnah (pembela sunnah),”
Muhammad bin Daud berkata, “Pada masa Imam Asy-Syafi`i, tidak pernah terdengar sedikitpun beliau bicara tentang hawa, tidak juga dinisbatkan kepadanya dan tidakdikenal darinya, bahkan beliau benci kepada Ahlil Kalam (maksudnya adalah golongan Ahwiyyah atau pengikut hawa nafsu yang juga digelari sebagai Ahlul-Ahwa’ seperti al-Mujassimah, al-Mu'tazilah, Jabbariyyah dan yang sebagainya) dan Ahlil Bid’ah.” Beliau bicara tentang Ahlil Bid’ah, seorang tokoh Jahmiyah, Ibrahim bin ‘Ulayyah, “Sesungguhnya Ibrahim bin ‘Ulayyah sesat.” Imam Asy-Syafi`i juga mengatakan, “Menurutku, hukuman ahlil kalam dipukul dengan pelepah pohon kurma dan ditarik dengan unta lalu diarak keliling kampung seraya diteriaki, “Ini balasan orang yang meninggalkan kitab dan sunnah, dan beralih kepada ilmu kalam (ilmu falsafah dan logika yang digunakan oleh golongan Ahwiyyah)”
Beliau mewariskan kepada generasi berikutnya sebagaimana yang diwariskan oleh para nabi, yakni ilmu yang bermanfaat. Ilmu beliau banyak diriwayatkan oleh para murid- muridnya dan tersimpan rapi dalam berbagai disiplin ilmu. Bahkan beliau pelopor dalam menulis di bidang ilmu Ushul Fiqih, dengan karyanya yang monumental Risalah. Dan dalam bidang fiqih, beliau menulis kitab Al-Umm yang dikenal oleh semua orang, awamnya dan alimnya. Juga beliau menulis kitab Jima’ul Ilmi.
Beliau mempunyai banyak murid, yang umumnya menjadi tokoh dan pembesar ulama dan Imam umat islam, yang paling menonjol adalah: 1. Ahmad bin Hanbal, Ahli Hadits dan sekaligus juga Ahli FiqiKesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; referensi tanpa isi harus memiliki namah dan Imam Ahlus Sunnah dengan kesepakatan kaum muslimin. 2. Al-Hasan bin Muhammad Az-Za’farani 3. Ishaq bin Rahawaih, 4. Harmalah bin Yahya 5. Sulaiman bin Dawud Al Hasyimi 6. Abu Tsaur Ibrahim bin Khalid Al Kalbi dan lain-lainnya banyak sekali.

Al-Hujjah

Kitab “Al Hujjah” yang merupakan madzhab lama diriwayatkan oleh empat imam Irak; Ahmad bin Hanbal, Abu Tsaur, Za’farani, Al Karabisyi dari Imam Syafi’i.
Dalam masalah Al-Qur’an, beliau Imam Asy-Syafi`i mengatakan, “Al-Qur’an adalah Qalamullah, barangsiapa mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk maka dia telah kafir.”

Al-Umm

Sementara kitab “Al Umm” sebagai madzhab yang baru Imam Syafi’i diriwayatkan oleh pengikutnya di Mesir; Al Muzani, Al Buwaithi, Ar Rabi’ Jizii bin Sulaiman. Imam Syafi’i mengatakan tentang madzhabnya,”Jika sebuah hadits shahih bertentangan dengan perkataanku, maka buanglah perkataanku di belakang tembok,”
“Kebaikan ada pada lima hal: kekayaan jiwa, menahan dari menyakiti orang lain, mencari rizki halal, taqwa dan tsiqqah kepada Allah. Ridha manusia adalah tujuan yang tidak mungkin dicapai, tidak ada jalan untuk selamat dari (ucapan) manusia, wajib bagimu untuk konsisten dengan hal-hal yang bermanfaat bagimu”.
"Ikutilah Ahli Hadits oleh kalian, karena mereka orang yang paling banyak benarnya.”
Beliau berkata, “Semua perkataanku yang menyelisihi hadits yang shahih maka ambillah hadits yang shahih dan janganlah taqlid kepadaku.”
Beliau berkata, “Semua hadits yang shahih dari Nabi Shalallahu 'alaihi wassalam maka itu adalah pendapatku meski kalian tidak mendengarnya dariku.”
Beliau mengatakan, “Jika kalian dapati dalam kitabku sesuatu yang menyelisihi Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam maka ucapkanlah sunnah Rasulullah dan tinggalkan ucapanku.”

Akhir Hayat

Pada suatu hari, Imam Syafi'i terkena wasir, dan tetap begitu hingga terkadang jika ia naik kendaraan darahnya mengalir mengenai celananya bahkan mengenai pelana dan kaus kakinya. Wasir ini benar-benar menyiksanya selama hampir empat tahun, ia menanggung sakit demi ijtihadnya yang baru di Mesir, menghasilkan empat ribu lembar. Selain itu ia terus mengajar, meneliti dialog serta mengkaji baik siang maupun malam.
Pada suatu hari muridnya Al-Muzani masuk menghadap dan berkata, "Bagamana kondisi Anda wahai guru?" Imam Syafi'i menjawab, "Aku telah siap meninggalkan dunia, meninggalkan para saudara dan teman, mulai meneguk minuman kematian, kepada Allah dzikir terus terucap. Sungguh, Demi Allah, aku tak tahu apakah jiwaku akan berjalan menuju surga sehingga perlu aku ucapkan selamat, atau sedang menuju neraka sehingga aku harus berkabung?".
Setelah itu, dia melihat di sekelilingnya seraya berkata kepada mereka, "Jika aku meninggal, pergilah kalian kepada wali (penguasa), dan mintalah kepadanya agar mau memandikanku," lalu sepupunya berkata, "Kami akan turun sebentar untuk shalat." Imam menjawab, "Pergilah dan setelah itu duduklah disini menunggu keluarnya ruhku." Setelah sepupu dan murid-muridnya shalat, sang Imam bertanya, "Apakah engkau sudah shalat?" lalu mereka menjawab, "Sudah", lalu ia minta segelas air, pada saat itu sedang musim dingin, mereka berkata, "Biar kami campur dengan air hangat," ia berkata, "Jangan, sebaiknya dengan air safarjal". Setelah itu ia wafat. Imam Syafi'i wafat pada malam Jum'at menjelang subuh pada hari terakhir bulan Rajab tahun 204 Hijriyyah atau tahun 809 Miladiyyah pada usia 52 tahun.
Tidak lama setelah kabar kematiannya tersebar di Mesir hingga kesedihan dan duka melanda seluruh warga, mereka semua keluar dari rumah ingin membawa jenazah diatas pundak, karena dahsyatnya kesedihan yang menempa mereka. Tidak ada perkataan yang terucap saat itu selain permohonan rahmat dan ridha untuk yang telah pergi.
Sejumlah ulama pergi menemui wali Mesir yaitu Muhammad bin as-Suri bin al-Hakam, memintanya datang ke rumah duka untuk memandikan Imam sesuai dengan wasiatnya. Ia berkata kepada mereka, "Apakah Imam meninggalkan hutang?", "Benar!" jawab mereka serempak. Lalu wali Mesir memerintahkan untuk melunasi hutang-hutang Imam seluruhnya. Setelah itu wali Mesir memandikan jasad sang Imam.
Jenazah Imam Syafi'i diangkat dari rumahnya, melewati jalan al-Fusthath dan pasarnya hingga sampai ke daerah Darbi as-Siba, sekarang jalan Sayyidah an-Nafisah. Dan, Sayyidah Nafisah meminta untuk memasukkan jenazah Imam ke rumahnya, setelah jenazah dimasukkan, beliau turun ke halaman rumah kemudian salat jenazah, dan berkata, "Semoga Allah merahmati asy-Syafi'i, sungguh ia benar-benar berwudhu dengan baik."
Jenazah kemudian dibawa, sampai ke tanah anak-anak Ibnu Abdi al-Hakam, disanalah ia dikuburkan, yang kemudian terkenal dengan Turbah asy-Syafi'i sampai hari ini, dan disana pula dibangun sebuan masjid yang diberi nama Masjid asy-Syafi'i. Penduduk Mesir terus menerus menziarahi makam sang Imam sampai 40 hari 40 malam, setiap penziarah tak mudah dapat sampai ke makamnya karena banyaknya peziarah.


Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Imam_Asy-Syafi%27i
SELAMAT TINGGAL
Oleh Siti Nurningsih

Detik-detik waktu mulai berkata
Tik! Tik! Tik!
Bertanda ku akan menghilang

Pelukan erat mulai menyapa
Tangisan haru mulai meraung
Kata-kata perpisahan mulai terucap
Kata-kata cinta mulai terdengar

Ku percepat langkah kakiku
Untuk menyusuri ibuku
Sedangkan mereka masih di sini

Lambaian tangan mulai terangkat
Ku langkahkan kaki ku
Tuk terakhir di Selat

Wajah menatap dengan duka
Senyum manis mulai hilang
Janji-janji suci mulai berkata
Akankah aku akan kembali tuk mereka?
Tidak! Tidak!
Benih-benih cinta kan selalu tersimpan dihati

Sayang,
Selamat tinggal
Kawan!
Selamat tinggal
Selamat tinggal semuanya

Sumber :  http://www.lokerpuisi.web.id/2012/05/kumpulan-puisi-perpisahan-terbaru.html
HUJAN BARU SAJA
Oleh Annie Zulaikha

Masih di sini
Menjagamu sepenuh hatiku
Bersama rinai-rinai embun yang menangis
Dirimu

Tamsil mentari masih berdiri di situ
Kan kujumputi berkasnya tuk dirimu
Biar hangat sapamu mengembang bak tembang berdendang
Biar tertanam sinarnya meski terik berkumandang, sayang

Coba kau katakan luas samudra itu ada di mataku
Maka kubisikkan bila samudra yang kau ciptkan dimata ini adalah lautan cintaku
Atau kau lirih menyapa sepotong hati
'Purnama itu tepat berada di wajahku
Maka kupun pelan menyantun lisanmu
Bahwa syahdu di peraduan purnama yang kau sapa, terlukis indah rinduku padamu

Hujan baru saja berhenti
Rintiknya masih berserakan
Namun aku masih di sini
Tetap menjaga cintamu sampai nanti

Sumber : http://www.lokerpuisi.web.id/2015/02/hujan-baru-saja-oleh-annie-zulaikha.html

Rabu, 11 Februari 2015

MANA YANG LEBIH UTAMA, SHALAT TAHAJUD ATAU MEMBACA AL-QUR’AN SETELAH SHALAT FAJAR?
 
Alhamdulillah Pertama,
Seyogyanya diketahui bahwa yang paling utama bagi orang yang terkena beban (kewajiban) terkait dengan ibadah sunah, adalah yang paling bermanfaat untuk dirinya dan hatinya. Meskipun (ibadah) sunah ini mafdhul (bukan yang utama) bagi dirinya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah ditanya, “Manakah yang lebih utama, kalau dia bangun malam, apakah shalat atau membaca (Al-Qur’an)?"
Maka beliau menjawabnya, “Shalat lebih utama dibandingkan membaca (Al-Qur’an) di luar shalat. Hal itu telah ditegaskan oleh para ulama. Akan tetapi, bagi yang mendapatkan semangat, bertadabur dan memahami dalam membaca tanpa shalat. Maka yang lebih utama baginya adalah apa yang paling bermanfaat.” (Majmu Al-Fatawa, 23/62)
Kedua,
Kalau memungkinkan dapat menggabungkan di antara keutamaan qiyamul Lail dan bacaan Al-Qur’an serta zikir. Maka hal itu yang paling utama.
Para ulama yang tergabung dalam Al-Lanjah Ad-Daimah mengatakan, “Duduk setelah shalat subuh dengan menyibukkan zikir pagi dan membaca Al-Qur’an termasuk sunah yang dianjurkan untuk selalu dilakuakn oleh seorang muslim.” (Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 24/177)
Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya, “Sebagian orang mempunyai permasalahan dalam mengahafal Al-Qur’an dan shalat malam (qiyamullail). Sulit baginya melakukan shalat malam dan menghafal. Apa nasehat untuknya?" Maka beliau menjawabnya, “Qiyamullail termasuk amal yang paling utama. Sebaik-baik shalat setelah shalat fardu adalah shalat malam. Sementara Al-Qur’an tidak diragukan lagi, ia termasuk ucapan yang paling baik. Ia termasuk zikir yang paling utama juga merupakan kalamullah Azza Wajalla. Nasehatku kepada mereka, agar memberi perhatian terhadap Al-Qur’an dan berusaha melakukan tahajud dan shalat malam semampu mungkin. Maksudnya, jika seseorang bangun setengah jam sebelum subuh, lalu dia berwudhu dan shalat meskipun tiga rakaat witir, dan dia kontinyu melakukannya, maka hal itu termasuk suatu kebaikan "Sebaik-baik amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang kontinyu meskipun sedikit.” (Al-Bab Al-Maftuh, 89/17)
Ketiga,
Qiyamul lail termasuk ibadah sunah yang paling utama. Dia lebih didahulukan dibandingkan membaca Al-Qur’an di luar shalat. Jika tidak memungkinkan untuk digabung, apalagi qiyamul lail termasuk ibadah yang tertentu waktunya yang jika terlewat, maka terlewatkan pelaksanaannya. Maka yang dianjurkan adalah melaksanakan pada waktunya. Berbeda dengan membaca Al-Qur’an, ia dapat dibaca pada setiap waktu, siang danmalam. Maka masih memungkinkan dilaksanakan pada waktu lain. Kemudian qiyamul lail juga di dalamnya ada bacaan Al-Qur’an, dan ada tambahan amalan lainnya. Maka ia lebih dari sekedar satu ketaatan dibandingkan hanya sekedar membaca (Al-Qur’an). Amalan yang lebih banyak dalam ketaatan itu pahalanya lebih banyak. Allah Ta’ala berfirman:
لَيْسُوا سَوَاءً مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ أُمَّةٌ قَائِمَةٌ يَتْلُونَ آيَاتِ اللَّهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَهُمْ يَسْجُدُونَ (سورة آل عمران: 113)
“Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (sembahyang).” (QS. Ali Imran: 113)
Dan firman-Nya:
“Dan pada sebagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra: 79)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Bacaan Al-Qur’an dalam shalat itu lebih utama dibanding di luar shalat. Keutamaan pembaca Al-Qur’an dalam shalat itu lebih besar dibandingkan di luar shalat.” (Majmu Fatawa, 23/282)
Untuk mengetahui kemuliaan qiyamul lail, penjelasan pahala dan keutamaannya, silahkan lihat soal jawab no. 50070.
Keempat,
Selayaknya memulai dengan zikir pagi hari yang bersumber dari Nabi sallallahu alaihi wa sallam pada waktu seperti ini. Sebelum membaca Al-Qur’an bagi yang ingin dibacanya atau sebelum sibuk dengan pekerjaan atau tidur, bagi yang mempunyai kesibukan atau tidur pada waktu seperti ini. Karena zikir pada waktu ini merupakan ibadah tertentu yang akan terlewatkan jika waktunya berlalu. Dan ibadah yang terkait dengan waktu, lebih diutamakan dibandingkan dengan (ibadah) lainnya. Meskipun ibadah lainnya –dari sisi asalnya- itu lebih utama darinya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Sesuatu yang lebih utama secara umum, tidak mesti lebih utama pada setiap kondisi dan tidak untuk setiap orang. Bahkan sesuatu yang tidak utama, tapi pada kesempatan tertentu disyariatkan, lebih utama daripada yang utama secara umum. Seperi tasbih pada ruku dan sujud, lebih utama dibandingkan membaca Al-Qur’an, tahlil dan takbir. Tasyahud di akhir shalat dan doa setelahnya itu lebih utama dibandingkan bacaan Al-Qur’an.” (Majmu Fatawa, 24/236-237)
Syekh Ibnu Baz rahimahullah mengatakan, “Wirid yang disyariatkan dari zikir dan doa yang bersumber dari Nabi sallallahu alaihi wa sallam, lebih utama dilakukan pada waktu yang mengapit siang, yaitu setelah shalat Shubuh dan shalat Ashar. Hal itu lebih utama dibandingkan membaca Al-Qur’an, karena ibadah yang ditentukan berdasarkan waktu, akan terlewatkan jika waktunya lewat. Sedangkan bacaan Al-Qur’an waktunya luas.” (Majmu Fatawa Ibnu Baz, 8/312. Dapat juga dilihat di 26/72)
Kelima,
Yang dimaksud dalam firman Allah,
وَقُرْآنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا  (سورة الإسراء: 78)
 "Dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)."  (QS. Al-Isra: 78)
Adalah shalat fajar. Sebagaimana pendapat Ibnu Abbas, Mujahid, Dhohhaq, Ibnu Zaid dan lainnya. Bukan sekedar bacaan (Al-Qur’an) ketika fajar. Silahkan merujuk Tafsir Ath-Thabari, 17/521-523.
Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Maksudnya adalah shalat fajar, sebagaimana ditegaskan dalam Ash-Shahihain (Bukhari dan Muslim). Karena pada waktu itu disaksikan malaikat malam dan malaikat siang.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/108)
Telah diriwayatkan oleh Bukhari, no 649 dan Muslim, no. 649 dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata, "Aku mendengar Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda:
تَجْتَمِعُ مَلَائِكَةُ اللَّيْلِ وَمَلَائِكَةُ النَّهَارِ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ،  ثُمَّ يَقُولُ أَبُو هُرَيْرَةَ : فَاقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ : إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا
“Para malaikat malam dan malaikat siang berkumpul pada shalat fajar. Kemudian Abu Hurairah mengatakan. Jika anda suka, silakan membaca
إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا
"Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)." (QS. Al-Isra: 78)
Diriwayatkan oleh Tirmizi, no. 3135 dishahihkan juga dari Abu Hurairah dari Nabi sallallahu alaihi wa sallam dalam (penafsiran) firman Allah: “Dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)." (QS. Al-Isra: 78) Beliau mengatakan, “Disaksikan oleh para malaikat malam dan para malaikat siang.”
Kesimpulannya, jika tidak mungkin menggabungkan antara Qiyamul lain dan zikir kepada Allah Ta’ala setelah shalat fajar sampai terbit matahari, maka hendaknya dia dahulukan menunaikan Qiyamul lail dibandingkan membaca Al-Qur’an setelah shalat fajar. Sebagaimana hendaknya dia mendahulukan zikir pagi dibandingkan membaca (Al-Qur’an) setelah fajar. Maka, yang lebih sempurna adalah anda menggabungkan antara tahajud, berzikir dan membaca (Al-Qur’an) setelah shalat fajar sampai matahari terbit. Kalau hal itu tidak memungkinkan bagi anda, maka upayakan menunaikan tahajud waktu malam, kemudian lanjutkan kebiasaan anda berupa shalat  dan membaca (Al-Qur’an) sebelum fajar. Lalu beristirahatlah setelah shalat fajar, akan tetapi hendaknya anda selesaikan zikir pagi sebelum anda tidur. Hal itu mudah insya Allah, karena mungkin dapat selesaikan dalam waktu singkat.
Wallahu a'lam .

Sumber :  http://islamqa.info/id/145693

Membandingkan-Cinta Allah-dgn Cinta Manusia/Harta. Menggapai-Cinta Allah.


Assalamualaikum wr.wb.

Katakanlah: "jika bapa-bapa , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNYA dan dari berjihad di jalan NYA, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. Q-S At-Taubah Ayat: 24
Jika seorang manusia sedang jatuh cinta kepada sesuatu atau pasangannya (kekasihnya). Itu adalah nafsu. Kalau tidak dikendalikan, akan membawa manusia ke jalan syetan. Ada beberapa tanda-tanda yang dirasakan, yaitu:
1. Hatinya merasa memiliki dan merasakan getaran cinta (Untuk pasangannya).
2. Badannya juga merasakan getaran. Yaitu getaran rindu (untuk pasangannya).
3. Fikirannya terbayang berjuta khayalan dan keindahan.
Jika seorang manusia sedang jatuh cinta kepada Allah ( KEKASIH_nya). Itu adalah iman. Yang membuat manusia hidup selalu dalam ketenangan (nafsul mutmainnah). Ada beberapa tanda-tanda yang dirasakan, yaitu:
1. Hatinya juga merasakan getaran cinta.
2.Badannya merasakan getaran. Yaitu gataran iman.
3. Fikirannya tiada khayalan dan bayangan keindahan duniawi.

Muslimin wal Muslimat yang dirahmati Allah. Pada artikel ini penulis akan membahas kedua perbedaan di atas.

Bila manusia mencintai "sesuatu" (harta dan manusia), Itu adalah fitrah. Fitrah ini adalah hawa nafsu yang diberikan oleh Allah kepada mahluknya (Q-S Ali Imran ayat 14), yaitu manusia atau hewan. Hanya saja perbedaanya, jika manusia diberikan akal, namun hewan tidak. Perasaan cinta terhadap "sesuatu" ini datang dengan sendirinya. Tidak seperti rasa cinta terhadap Allah, yaitu harus dicari baru kita bisa mendapatkannya. Bila manusia mencintai "sesuatu" katakanlah itu harta benda, maka manusia biasanya lupa dengan Tuhannya, sehingga menyebabkan manusia terjerumus ke jalan syetan seperti, merasa memiliki (sombong), merendahkan orang lain, lalai atau lupa beribadah, dll. Contoh lainnya, bila manusia mencintai seseorang, katakanlah itu keluarganya atau pasangannya. Maka akan timbul perasaan rindu, cemburu, buruk sangka dll. Semua perasaan ini adalah nafsu, biasanya akan berujung pada emosi. Sifat syetan juga namanya. Semua perasaan ini apabila tidak disadari oleh manusia, maka akan membuat manusia terlena ke dalam kenikmatan dan keindahan duniawi yang menyebabkan manusia lupa terhadap Tuhannya. Allah Robbul Aalamiin.

Bila manusia mencintai Allah, Rasulullah dan jihad fii sabilillah itu adalah iman. Berbeda dengan hawa nafsu. Iman atau Hidayah itu tidak datang dengan sendirinya seperti hawa nafsu. Tapi harus dicari, manusia baru bisa mendapatkannya. Sama dengan mencari rejeki. Biasanya ini melalui proses yang panjang dan berliku. Ketika manusia jatuh cinta kepada Allah, maka yang dirasakan manusia di dalam hati adalah getaran cinta, dalam badannya terasa getaran iman, dalam fikirannya tiada bayangan khayalan dan keindahan duniawi. Semua perasaan ini baru bisa didapat setelah manusia banyak melakukan amalan-amalan sunnah Rosulullah saw, terutama sholat, membaca Al-Quran dan Dzikrullah lainnya. Waktu yang lebih utama adalah tengah malam.

Bagaimanakah wujud hati yang merasakan getaran cinta dan badan merasakan getaran iman kepada Allah dan Rasulnya ?..... Dan bagaimana pula fikiran manusia bisa tanpa khayalan ?..... Untuk lebih jelasnya silahkan anda buka RAHASIA DI BALIK DAHSYATNYA SURAT AL-ANFAL AYAT 2.

Jika manusia lebih mencintai "sesuatu" (harta benda dan manusia) dari pada PEMILIK-nya (pemilik harta dan manusia sesungguhnya itu adalah Allah). Maka rasa cinta (hawa nafsu) itu bisa menutupi iman manusia. Artinya manusia akan sulit mengendalikan nafsunya, karena telah diperbudak oleh "sesuatu" atau nafsu. Sebab, jika pada saat sang PEMILIK sesungguhnya (Allah) mengambil "sesuatu" dari manusia (kehilangan), maka manusia akan merasakan kehilangan, kepedihan dan sakit hati (penyakit hati) yang mendalam. Pada saat itulah timbul sifat-sifat syetan yang menutupi iman yaitu emosi, frustasi, depresi, bahkan sampai bunuh diri.

Jika manusia lebih mencintai Allah dari pada "sesuatu" (harta benda dan manusia). Maka rasa cinta itu bisa menutupi nafsu manusia. Artinya bukan kehilangan nafsu, tetapi manusia bisa dengan sangat mudah mengendalikan nafsu. Sebab pada saat PEMILIK yang sesungguhnya (Allah) mengambil "sesuatu" dari manusia (kehilangan). Maka manusia tidak akan merasakan kepedihan, sakit hati (penyakit hati) dan kehilangan. Yang dirasakan adalah ikhlas, sabar dan tawakkal. Jelas ia tidak merasakan sakit hati dan kehilangan . Karena pada hakikatnya semua yang diambil itu adalah milik-NYA. Bukan milik manusia. Karena ia lebih mencintai PEMILIK-nya dari pada "sesuatu".

Para pembaca yang dirahmati Allah. Dari tulisan di atas terungkap jelas bahwa kebanyakan manusia lebih mencintai harta benda dan manusia dari pada cinta kepada Allah swt,  Rasulullah saw dan jihad fii sabilillah. Padahal seharusnya manusia lebih mencintai Allah, Rasul dan jihad fii sabilillah dari pada cinta kepada sesuatu apapun. Jika manusia lebih mencintai Allah dari pada "sesuatu apapun". Sudah pasti manusia mencintai sesamanya. Tetapi jika manusia lebih mencintai "sesuatu yang lain dari pada Allah", belum tentu manusia mencintai Allah. Malah biasanya manusia itu lupa kepada Allah.

Sulit memang untuk tidak merasakan sakit, pedih dan kehilangan ketika manusia diuji. Sulit memang untuk mengikhlaskannya. Tapi bagi hamba Allah yang rajin melakukan amalan-amalan sunnah tidaklah sulit. Secara otomatis perasaan pedih hanya sedikit yang dirasakan. Bahkan bagi orang-orang yang sangat rajin melakukan amalan-amalan sunnah pada tengah malam yaitu sholat malam (Tahajjud) dan Dzikrullah lainnya. Tidak merasakan sakit dan pedih. Semakin banyak manusia melakukan amalan-amalan sunnah, maka semakin tidak terasa pedih ketika mendapatkan ujian. Sebaliknya, semakin jarang melakukan amalan-amalan sunnah, maka semakin terasa kepedihannya. Bagi anda yang merasa sulit untuk menghilangkan rasa kesal, pedih dan sakit hati ketika mendapatkan ujian, Anda akan dipandu di sini agar mudah untuk mengikhlaskannya.

Hamba Allah yang mulia. Anda tidak perlu menjadi seorang sufi atau ahli tasauf, dan tidak juga perlu menuntut ilmu sampai berada pada tingkatan ma'rifat untuk bisa mencintai Allah melebihi dari segalanya. Karena untuk mencapai semua itu sangatlah sulit. Tapi cukup berada pada tingkatan taubat-pun anda pasti bisa. Syaratnya, dibuka dulu link di atas, dibaca dan diamalkan secara berkelanjutan.

Muslimin wal Muslimat. Sekian dulu ya?.....Semoga tulisan ini bermanfaat bagi anda.

Wassalam.

Sumber :  http://dokter-penyakit-hati.blogspot.com/